• 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8

Garden News

Memaknai Hari Kartini Bagi Dharma Wanita Persatuan Kebun Raya Bali


03/05/2013.  Ibu kita Kartini, putri sejati
Putri Indonesia, harum namanya
Ibu Kita Kartini, pendekar bangsa
Pendekar kaumnya, untuk merdeka
Wahai ibu kita Kartini, putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya, bagi Indonesia



Kita sering mendengar dan menghafal lagu di atas, bahkan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Lagu tentang Kartini. Ibu Kita Kartini adalah salah seorang pahlawan kemerdekaan Indonesia. Ia adalah tokoh emansipasi perempuan di Indonesia. Kartini, semasa hidupnya dipenuhi pemikiran-pemikiran untuk mengangkat derajat kaum perempuan agar bisa berkembang sebagaimana layaknya hak-hak yang didapat oleh lelaki pada masanya. Hari Kartini diperingati setiap tanggal 21 April yang merupakan hari kelahirannya.



Semangat memperingati hari Kartini telah mengakar rumput di seluruh nusantara, tak terkecuali bagi Dharma Wanita Persatuan Kebun Raya "Eka Karya" Bali. Peringatan hari Kartini kali ini dibuka oleh Ketua Dharma Wanita Persatuan KR Bali, Ibu Meliyani Lugrayasa. Dalam sambutannya, bu Meli mengajak seluruh anggota Dharma Wanita Persatuan KR Bali untuk meneladani semangat juang Kartini dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kesempatan ini juga dipaparkan biografi Kartini dan sepak terjang perjuangannya dalam menyetarakan kaumnya.



Raden Ajeng Kartini, dilahirkan di keluarga ningrat, pada tanggal 21 April 1879 di Mayong, sebuah desa yang terletak beberapa kilometer dari Jepara, Jawa Tengah. Kartini adalah anak ke lima sekaligus anak perempuan tertua dari sebelas bersaudara dari kedua istri ayahnya. Ayahnya bernama RMAA Sosroningrat dan ibunya bernama MA Ngasirah yang merupakan istri pertama.



Sejak kecil, Kartini sudah menunjukkan kepintaran dan kelincahannya. Oleh karena itu, Kartini kemudian disekolahkan di EUROPESE LAGERE SCHOOL (ELS), sekolah Belanda yang hanya mampu dienyam oleh keturunan ningrat pada waktu itu. Namun, pada usia 12 tahun Kartini sudah harus dipingit. Demi kepatuhan kepada tradisi ia harus berpisah pada dunia luar, dunia pendidikan dan terkurung di rumah. Sementara kaum laki-laki bebas melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, Kartini muda tidaklah berputus asa. Kartini kemudian memperluas pengetahuannya tanpa sekolah, maka satu-satunya jalan untuk menghabiskan waktu adalah dengan tekun membaca. De Locomotif adalah surat kabar yang paling sering ia baca.



Kartini juga gemar berkoresponsensi dengan teman-temannya antara lain: Ny Ovink Soer, Q Nellie Van Kol (Ny. Van Kol) Stella yaitu seorang penulis dan anggota militan pergerakan feminis di negeri Belanda saat itu. Dalam salah satu suratnya, Kartini menulis "Aku sungguh ingin mengenal seorang yang kukagumi, perempuan yang modern dan independen, yang melangkah dengan percaya diri dalam hidupnya, ceria dan kuat, antusias dan punya komitmen, bekerja tidak hanya untuk kepuasan dirinya namun juga memberikan dirinya untuk masyarakat luas, bekerja untuk kebaikan sesamanya"(25 Mei 1899).



Tiap pemikiran Kartini adalah semangat perlawanan. Emansipasi atau kesetaraan adalah hal yang menjadi pemikiran besarnya. Ia sangat menginginkan perempuan memiliki kesempatan memperoleh ilmu pengetahuan yang lebih luas. Kartini sudah memulainya untuk kita, maka mari kita lanjutkan! (disarikan dari berbagai sumber)-Muntadliroh


[ Kembali ]
Warning: mysql_num_rows() expects parameter 1 to be resource, boolean given in /home/krbali/public_html/garden_newsall.php on line 192
<< First | < Previous | Next > | Last >>